Oleh: Arief B. Iskandar
Suatu hari, setelah seharian berkeliling, Nasruddin Hoja
pulang ke rumah. Saat istrinya membukakan pintu, ia segera masuk. ia mendapati
ada sepotong keju di piring di atas meja makan. Ia langsung menghampiri dan
menyantap keju itu seraya berkata kepada istrinya, “Keju itu bagus untuk
kesehatan perut.”
Istrinya diam saja, tak berkomentar.
Esoknya, setelah seharian pergi, Nasruddin kembali pulang ke
rumah. Ia berharap ada lagi keju di atas meja makan. Namun, ia tak
menemukannya. Ia lalu menemui istrinya dan bertanya, “Kok tidak ada keju lagi?”
“Memangnya kenapa?” jawab istrinya.
“Tidak apa-apa, sih. Lagipula keju tidak bagus untuk
kesehatan gigi.”
“Jadi yang benar yang mana? Keju itu bagus untuk kesehatan
perut atau tidak bagus untuk kesehatan gigi?” tanya istrinya.
“Tergantung,” jawab Nasruddin, “kejunya ada atau tidak?!”
*
Penulis tentu tidak bermaksud membuat lelucon dengan
mencatut cerita fiktif di atas. Penulis hanya ingin mengajak pembaca merenung,
betapa bersilat lidah saat ini sudah dianggap hal biasa. Dibandingkan dengsn
silat-lidah Nasruddin di atas, apa yang kita saksikan hari ini sangat parah.
Apa yang diucapkan Nasruddin di atas tentu tidak berefek apa-apa selain
menunjukkan kecerdikannya dalam menyikapi keadaan yang berbeda; antara ada dan
tidak adanya keju.
Sebaliknya, hari ini kita menyaksikan banyak orang
bersilat-lidah demi tujuan yang buruk. Anehnya, hal demikian tidak dianggap
sebagai sesuatu yang tabu, apalagi dianggap aib dan dosa.
Lihatlah para elit politik kita. Hari ini bicara A, besok
bicara B. Isuk dele sore tempe (pagi kedelai sore tempe). Demikian kata orang
Jawa. Tidak aneh jika kemudian ada yang hari ini menjelek-jelekkan tokoh A,
esoknya sudah memuji-muji yang bersangkutan. Hari ini berseberangan, esoknya
sudah saling bergandengan tangan. Hari ini ngambek, esoknya sudah saling
berpelukan.
Siapapun bisa menilai, semua itu bukan berangkat dari sebuah
ketulusan, tetapi semata-mata karena kepentingan. Mereka hakikatnya sedang
mempraktikkan adagium politik sekular yang kotor, ”Tidak ada kawan atau musuh
abadi; yang ada hanyalah kepentingan abadi.”
Demi kepentingan kekuasaan, apapun dilakukan. Tak ada lagi
rasa malu dan sungkan. Tak ada lagi rasa bersalah dan takut dosa. Urusan
halal-haram tak lagi menjadi ukuran. Urusan syariah tak lagi dipandang relevan.
Demikianlah kalau manusia sudah diharu-biru hawa nafsu,
diperdaya harta dan diperbudak syahwat kekuasaan. Semua itu berpangkal pada
kecintaan manusia terhadap dunia. Padahal andai saja setiap diri sejenak mau
berhitung: berapa sih harga dunia? Asal tahu saja, meski seluruh isi dunia kita
miliki, itu tak ada nilainya di sisi Allah SWT. Sabda Nabi saw., “Seandainya
dunia ini sebanding harganya dengan sayap seekor lalat saja, niscaya Allah SWT
tidak akan membiarkan seorang kafir pun untuk meminum air dari dunia ini barang
seteguk pun.” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).
Baginda Nabi saw. pun bersabda, ”Dunia ini terkutuk dan
terkutuk pula semua yang ada di dalamnya, kecuali mereka yang senantiasa
mengingat Allah SWT…” (Ibn Majah dan ad-Darimi).
Sayang, Allah SWT tampaknya sudah tidak lagi mereka ingat,
kecuali di dalam shalat. Para elit politik, termasuk para tokoh Islam, seolah
tidak pernah belajar meneladani generasi salafush-shalih dulu, yang tidak
pernah silau oleh gemerlap dunia, harta dan kekuasaan. Jangankan bermimpi untuk
menjadi penguasa atau bernafsu mengejar kekuasaan. Bahkan ditawari jabatan pun
sering tak mereka hiraukan.
Imam Syafii, misalnya, ketika ditawari suatu jabatan, ia
menolak. Demikian pula Imam Ahmad. Saat beliau ditawari untuk menjadi hakim
pada zaman Bani Umayah yang terakhir, beliau pun enggan menerima. Pada masa pemerintahan
Abu Ja’far al-Manshur, saat beliau diminta kembali untuk menjadi hakim, beliau
tetap menolak. Semua itu mereka lakukan bukan karena kekuasaan itu haram,
tetapi semata-mata karena mereka khawatir akan Hari Pertanggungjawaban.
Mereka sangat memahami sabda Nabi saw. saat Abu Dzar meminta
amanah jabatan/kekuasaan. Saat itu Nabi saw. menolak sambil memberi nasihat:
«يَا أَبَا ذَرّ إِنَّك ضَعِيف، وَإِنَّهَا أَمَانَة، وَإِنَّهَا
يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي
عَلَيْهِ فِيهَا»
“Abu Dzar, sungguh engkau lemah, sementara jabatan/kekuasaan
itu adalah amanah serta bisa menjadi kerugian dan penyesalan pada Hari Kiamat;
kecuali bagi orang yang mengambil amanah kekuasaan itu dengan benar dan
menunaikan kewajibannya di dalamnya.” (HR Muslim).
Karena tak pernah berambisi atas kekuasaan, tidak aneh jika
generasi salafush-shalih seperti Imam Syafii dan Imam Ahmad adalah generasi
yang tak pernah plin-plan. Mereka selalu istiqamah, apalagi dalam menyatakan
kebenaran dan menjalankan dakwah. Sebabnya, mereka memang tak pernah terbebani
oleh kekhawatiran akan risiko hilang kesempatan meraih jabatan atau kekuasaan.
Mereka tidak sebagaimana para tokoh saat ini, yang bertindak
mencla-mencle karena khawatir tidak kebagian kue kekuasan. Lalu agar tidak
terkesan mencla-mencle, mereka sibuk berdalih dan bersilat lidah. Mereka tak
risih kalaupun harus menjilat ludah yang sudah tertumpah. Ironisnya, semua itu
mereka lakukan hanya demi meraih dunia yang sangat murah!
Wa mâ tawfîqî illa bilLâh. []
💖😄 Maaf, mungkin info berikut bermanfaat bagi anda yang ingin tampil lebih cantik dan sehat. 😄💖
Semoga hidup kita sehat berkah dan sukses mulia dunia akherat.
💖😄 Maaf, mungkin info berikut bermanfaat bagi anda yang ingin tampil lebih cantik dan sehat. 😄💖
NANOGOLD/NG yaitu
kosmetik dengan teknologi perawatan kulit tercanggih
di dunia saat ini yang menggunakan teknologi EMAS berukuran NANO (10 pangkat min 9 m), sehingga memudahkan
proses penyerapan bagi kulit, mencerahkan kulit, aman, menyehatkan kulit, dan halal (“Susuk Emas
Modern”).
*Macam-macam NG yang mengandung
emas:*
1. Ada
8 jenis
krem: pagi, malam (biasa/pinang), jerawat, mata panda, antinoda,
Moisturizing/pelembab wajah, dan krem pelembab bibir & kelopak mata
dengan
berat 5 g (Rp 30rb) atau 12,5 g (75rb)
2. Hand
body lotion whitening 100 ml (35rb)
3. Serum konsentrat masker 10 ml (30rb)
4. Hair
tonic / serum rambut 20 ml (50rb)
Produk pelengkap NG di bawah ini tidak mengandung emas:
5. Ada
8 jenis Sabun wajah padat: susu madu, mengkudu, sere, aloevera, pepaya,
bengkoang, susu beras, dan sabun sulfur @11rb
6. Bedak
Tabur 30 g (50rb)
7. Shampo
Merang 100 ml (22rb)
8. Sabun
wajah cair 60 ml (47rb)
9. Obat
Jerawat (10rn)
Cara
membeli berbagai produk NG adalah sebagai
berikut:
1.
Pilih produk yang ingin dibeli (lihat info di atas/klik Macam-macamproduk Nano gold) dan tentukan jumlahnya
2.
Lalu sms ke: 085731160005
dengan Format sms : NAMA_ALAMAT
LENGKAP_ PESAN
Contoh: Fatim_Dapuan baru II/41 Surabaya 60163_Pesan
10 Krem pagi 5 g
10 Krem malam 12,5 g
10 Moisturizing/pelembab 5 g
10 Hand body lotion whitening
10 Serum konsentrat masker
10 Hair tonic / serum rambut
3.
Lalu kami hitungkan: harga produk – diskon (jika
beli > Rp 300.000) + Ongkos kirim, dan kami smskan ulang uang yang seharusnya
ditransferkan ke no pembeli
4.
Pembeli mentransfer sejumlah uang sesuai dengan
perhitungan kami, ke BRI Syariah. an: Samik No: 1006397472
5.
Setelah pembeli mentransfer, konfirmasi dan kirim foto bukti pengiriman
ke no wa 085731160005, selanjutnya barang yang anda beli segera kami
kirim via jne//pos.
Info lengkap klik di NANOGOLD / http://nanogoldcosmetic.blogspot.co.id/ Semoga hidup kita sehat berkah dan sukses mulia dunia akherat.







0 komentar:
Posting Komentar